6.Seni Kriya

Seni kriya merupakan satu cabang atau ranting seni yang sedang mengalami transformasi - baik bentuk maupun fungsinya sehingga sering menjadi percakapan atau diskusi panjang, berkenaan dengan status dan kedudukannya dalam pekembangan seni rupa di Indonesia (Soedarso Sp., 1990: 1 ). Inovasi dalam kriya sedang terus berjalan, hal ini terutama dilakukan oleh kriyawan-kriyawan muda atau calon-calon kriyawan yang punya gairah dalam menggali dan mengembangkan kriya yang memiliki potensi dalam banyak bidang garapan. Sebagai misal: kriya kayu, kriya keramik, dan kriya tekstil (dalam hal ini khususnya batik). Dari ketiga bidang tersebut mampu berkembang sekaligus dalam tiga arah yang masing-masing memiliki kepentingan berbeda. Tiga arah yang dimaksud ialah: 1) arah yang berorientasi pelestarian, 2) arah yang berorientasi pada pengembangan guna kepentingan ekonomi atau kepentingan komersial [`industri' kerajinan (-kriya)], 3) arah yang berorientasi pada kepentingan ekspresi pribadi (prestasi kesenimanan). 
Istilah kriya relatif belum lama dipakai dalam bahasa Indonesia sehingga banyak menimbulkan pertanyaan dan kebingungan, tetapi sekaligus - ternyata menimbulkan kelatahan dalam menggunakan istilah itu. Hal ini dimungkinkan karena pengguna istilah kurang atau belum mengerti secara jelas mengenai maknanya. Istilah kriya ini sering diidentikkan dengan kerajinan, tetapi banyak pula yang mengatikan berbeda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.
Sebagai praktisi seni (seniman) barangkali tidak penting mempermasalahkan istilah kriya, tetapi sebagai akademisi hal itu teramat penting untuk dibicarakan, karena suatu istilah adalah simbol yang digunakan untuk menggambarkan makna secara keseluruhan yang melingkupinya.
Sumber : Journal UNY https://share.google/OsXHOk11zyUH6Qvsq

Komentar

Postingan Populer